Jakarta –
Para demonstran di Turki turun ke jalan untuk hari keenam berturut-turut pada Selasa (25/03), sementara tujuh jurnalis ditahan dalam tindakan keras besar-besaran terhadap perbedaan pendapat.
Kerusuhan sipil di Turki meletus setelah Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu, saingan politik utama Presiden Recep Tayyip Erdogan, ditangkap atas tuduhan korupsi pekan lalu.
Penahanan Imamoglu memicu protes, yang kemudian disusul dengan tindakan keras yang telah menyebabkan lebih dari 1.400 orang ditangkap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Kebebasan pers terancam
Di antara jurnalis yang ditahan adalah fotografer AFP, Yasin Akgul. Para jurnalis tersebut didakwa dengan tuduhan “ikut serta dalam unjuk rasa dan pawai ilegal,” Padahal, AFP menyatakan bahwa Akgul “bukan bagian dari protes” melainkan hanya meliputnya sebagai jurnalis.
“Penahanannya tidak dapat diterima. Oleh karena itu, saya meminta Anda untuk segera turun tangan guna mendapatkan pembebasan cepat bagi jurnalis kami,” kata CEO dan ketua AFP, Fabrice Fries, dalam sebuah surat kepada kepresidenan Turki, sebagai kecaman tajam dari kantor berita yang berbasis di Paris tersebut.
Ribuan orang sebelumnya bergerak melalui Distrik Sisli di Istanbul pada Selasa (25/03), menuju markas besar pemerintahan distrik, menuntut agar pemerintah mengundurkan diri.
Para demonstran mengibarkan bendera dan spanduk dengan slogan “Tayyip mundur!” sementara warga yang tinggal di apartemen mengetuk panci dan wajan sebagai bentuk dukungan.
Erdogan: protes ini akan berakhir sia-sia
Terkait penangkapan Imamoglu, pemerintah Turki menolak klaim adanya pengaruh politik dan menegaskan bahwa peradilan negara tetap independen.
Erdogan menuduh partai oposisi, Partai Rakyat Republik (CHP), memprovokasi warga, serta menegaskan bahwa mereka akan merasa malu atas “kejahatan” yang telah mereka lakukan terhadap negara setelah “pertunjukan” mereka berakhir.
Saat berbicara kepada sekelompok anak muda saat berbuka puasa Ramadan pada Selasa (25/03), presiden Turki itu menyerukan kesabaran dan akal sehat di tengah apa yang ia gambarkan sebagai “hari-hari yang sangat sensitif”.
“Mereka yang membuat kekacauan di jalanan kita dan ingin mengubah negara ini menjadi tempat penuh kekacauan tidak akan menemukan jalan keluar. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan buntu,” kata Erdogan.
Oposisi serukan demonstrasi besar
Pemimpin CHP, Ozgur Ozel, mengunjungi Imamoglu di penjara Silivri, sebelah barat Istanbul. Ozel mengatakan kepada wartawan bahwa ia merasa “malu atas nama mereka yang mengatur Turki karena situasi yang sedang terjadi”.
Ozel menggambarkan Imamoglu dan dua wali kota distrik CHP lainnya yang juga dipenjara sebagai “tiga singa di dalam, berdiri tegak, dengan kepala terangkat tinggi, bangga pada diri mereka sendiri, keluarga mereka, dan rekan-rekan mereka, tanpa rasa takut”.
Ia mengatakan bahwa CHP akan menunjuk wali kota sementara untuk menggantikan Imamoglu guna mencegah adanya pengganti yang ditunjuk oleh negara.
Ozel juga menyerukan kepada seluruh rakyat Turki untuk bergabung dengannya dalam rapat umum besar pada Sabtu (29/03) di Istanbul.
“Apakah kalian siap untuk rapat umum besar di sebuah alun-alun besar di Istanbul pada hari Sabtu untuk mendukung Imamoglu, menentang penahanannya, menuntut persidangan yang transparan dan terbuka, serta menyuarakan bahwa kita sudah muak dan menginginkan pemilu dini?” tanyanya kepada para demonstran dalam aksi protes pada Selasa (25/03).
Demonstrasi pada Sabtu mendatang diperkirakan akan digelar di kawasan luas Maltepe di sisi Asia Istanbul.
Artikel ini diadaptasi dari DW berbahasa Inggris.
(ita/ita)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini